Program 100 (Seratus) Hari adalah program tidak pulang dan tidak dikunjungi selama 3 bulan dalam rangka mendidik santri agar beradaptasi di sekolah. Meski demikian, tentunya tetap diizinkan berkunjung kepada wali santri yang putranya barak kali ada yang masih homesick, sakit, atau memang ada hal yang sangat penting mendesak.
Sebagai seorang anak yang berada di usia transisi dari usia SD ke SMP, usia 12 tahun tidak lagi disebut terlalu anak-anak. Namun demikian belum sepenuhnya bisa terlepas dari bayang-bayang kenyamanan fasilitas di rumah sendiri (homesick).Jika dalam kurun waktu 1 (satu) s.d 2 (dua) bulan, santri sudah diizinkan pulang, secara umum, ceritanya kepada orang tua masih di dominasi perasaaan rindu dengan orang tua, kangen keluarga, ingin masakan ibunya, hingga terkadang ada yang punya alasan-alasan tak krusial seperti rindu ingin ketemu kucing peliharaan dan lain sebagainya.
Untuk itulah, program 100 Hari ini dicanangkan agar santri menemukan teman terbaiknya di Ma’had, beradaptasi dengan kamar, kelas, kamar mandi bersama hingga kegiatan kolektif selama 24 (dua puluh empat) jam.
Dengan program 100 Hari ini, santri diharapkan mendapatkan rasa aman, nyaman dan terbiasa dengan akhlak serta adab-adab islami di pondok. Rasa aman, nyaman dan berakhlak itulah yang kelak akan memudahkan santri untuk belajar dan memperoleh ilmu yang bermanfaat.
Sebagai sebuah program yang sudah teruji sebelumnya, Program 100 Hari biasanya mampu merubah rasa ingin pulang santri menjadi rasa nyaman tinggal di pondok dan hafal Matan Tuhfatul Athfal (Kaidah Tajwid) karya Syaikh Sulaiman Aljamzuri.